Contoh Makalah Amtsal Al-Qur’an
19.54
Tambah Komentar
BAB I
PENDAHULUAN
I.Latar Belakang
Sejak jaman jahiliyah atau sebelum kedatangan rasul masyarakat Arab sudah gemar berpantun dan bersyair. Semakin indah pantun dan syair seseorang maka semakin tinggi pula status sosial seseorang. Ketika Allah SWT yang maha mengetahui mengutus seorang rasul dengan dibekali firman-firman dari Allah yang kemudian dibukukan menjadi sebuah kitab dengan bahasa dan sastranya tidak bisa ditandingi oleh siapapun.
Disamping bahasa dan sastranya yang indah, Al-Qur’an juga menggunakan perumpamaan-perumpamaan (amtsal) yang sangat indah dan logis, yang mampu diterima oleh masyarakat. Namun karena begitu indahnya terkadang ‘ulama pun akan kesulitan dalam menafsirkan perumpamaan-perumpamaan tersebut.
Dengan analogi yang benar, kita akan lebih mengetahui ilmu yang kita yakini. Tamtsil (perumpamaan) merupakan kerangka yang dapat menampilkan makna-makna dalam bentuk yang hidup didalam pikiran. Biasanya dilakukan dengan mempersonifikasikan sesuatu yang ghoib dengan yang hadir, yang abstrak dengan yang konkrit, atau menganalogikan hal dengan sesuatu yang sama. Dengan tamtsil betapa banyak makna yang baik, dijadikan lebih indah, menarik dan mempesona. Tamtsil adalah ushlub Qur’an dalam mengungkapkan berbagai penjelasan dan segi-segi kemukjizatannya.
II.Rumusan Masalah
i.Apa penegertian Amtsal Al-Qur’an?
ii.Bagiamana sejarahnya Amtsal Al-Qur’an?
iii.Apa macam-macam Amtsal Al-Qur’an?
iv.bagaim faedahnya mempelajari Amtsal Al-Qur’an?
BAB II
PEMBAHASAN
I.Pengertian Amtsalil Qur’an
Amtsal jamak dari matsal. Matsal, mitsil matsil sama dengan syabah, syibih, dan syabih (semakna). Matsal dimaknakan dengan keadaan, kisah, dan sifat yang menarik perhatian, menakjubkan .
Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat, yaitu:
Menurut istilah ulama ahli adab, amtsal adalah ucapan yang banyak menyamakan keadaan sesuatu yang diceritakan dengan sesuatu yang dituju.
Menurut istilah ulama ahli Byan, amtsal adalah ungkapan majaz yang disamakan dengan asalnya karena adanya persamaan yang dalam ilmu balaghah disebut tasybih.
Menurut ulama ahli tafsir, amtsal adalah menampakkan penampakan yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik, yang mengena dalam jiwa, baik dalam bentuk tasybih maupun majaz mursal
Para ulama lain memberikan definisi matsal ialah mengungkapkan suatu makna abstrak yang dapat didefinisikan dengan bentuk yang elok dan indah. Maksudnya , matsal itu menyerupakan hal-hal yang abstrak disamakan dengan hal-hal yang konkret
II.Sejarah Amtsalil Qur’an
Orang yang kali pertama mengarang ilmu Amtsalil Qur’an ialah Syekh Abdur Rahman Muhammad bin Husain An-Naisaburi (wafat 406 H) dan dilanjutkan oleh Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad Al-Mawardi (wafat 450 H). Kemudian dilanjutkan dilanjutkan Imam Syamsuddin Muhammad bin Abi Bashrin Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah (wafat 754 H)
Imam Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 991 H). dalam bukunya Al-Itgan juga menyediakan satu bab khusus yang membicarakan Ilmu Amtsalil Qur’an dengan lima pasal didalamnya
III.Macam-Macam Amtsal Dalam Al-Qur’an
Ada tiga macam, yaitu:
Amtsal Musharrahah adalah yang ditegaskan didalamnya lafal matsal atau yang menunjuk kedalam tasybih. Contohnya seperti pada surat Al-Baqarah ayat 17-20
Artinya: 17. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
18. Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan."
19. Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
20. Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.
Allah mengumpamakan orang-orang munafik dalam dua hal yaitu dengan api yang menyala dan air yang didalamnya ada unsur kehidupan. Gegitu pula Al-Qur’an diturunkan untuk menyinari hati dan dan keduanya untuk menghidupkannya. Allah juga mengumpamakn orang munafik dengan api yang menyinari dan memanfaatkannya tapi sayang mereka tidak bisa memanfaatkannya sehingga mereka kehilangn arah. Dan perumpamaan yang lainnya
Amtsal kaminah ialah yang tidak ditegaskan lafal tamsil, tetapi dia menunjuk kepada beberapa makna yang indah yang mempunyai tekanan apabila ia dipindahkan kepada yang menyerupainya. Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan sebagai bentuk perumpamaan terhadap makna tertentu, hanya isi kandungannya menunjukkan salah satu perumpamaan atau perumpamaan yang terselubung. Contohnya
Seorang Arab berkata: “sebaik-baik urusan adalh yang ditengah/sedang”. Lalu ditanyakan: “mana persamaanya dengan Al-Qu’an” lalu dijawab: “kamu akan mendapatkannya dari ayat ini
Artinya: Mereka menjawab: " mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk Kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina Apakah itu." Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu".(Q.S. Al-Baqarah: 68)
Artinya: “Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna” (Q.S. An-najm: 41)
Amtsal Mursalah ialah kalimat-kalimat yang disebut secara terlepas tanpa ditegaskan lafal tasybih. Tetapi dapat dipergunakan untuk tasybih. Contohnya:
Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah: 216)
IV.Rukun-Rukun Dan Syarat-Syarat Amtsatil Qur’an
1.Wajah Syabbah
yaitu pengertian yang bersama-sama yang ada pada musyabbah dan musyabbah bih
2.Alat tasybih
Yaitu kaf, mitsil, kaanna, dan semua lafadz yang menunjukkan makna perserupaan
3.Musyabbah
Yaitu sesuatu yang diserupakan (menyerupai) musyabah bih
4.Musyabah bih
Yaitu sesuatu yang diserupai oleh musyabbah.
Contohnya tamsil ada dalam surat Q.S. Al-Ankabut: 41
•
Artinya: “perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui”
Dari contoh diatas wajah syabbah adalah “sifat kelemahan”. Contoh diatas juga menggunakan kata mitsil yang disertai dengan kaf. Sedangkan yang menjadi musyabbah dan musyabbah bih pada contoh diatas adalah orang musyrik dan laba-laba. Allah membuat perumpamaan untuk orang-orang musyrik lebih lemah daripada sembahan-sembahan mereka, dan mereka tidak akan pernah mendapatkan apa-apa selain kelemahan
Jika diperhatikan beberapa amtsalil Qur’an yang disebutkan para pengarang ulumul Qur’an, ternyata mereka merangkum ayat-ayat Al-Qur’an yang mempersamakan keadaan sesuatu dengan sesuatu yang lain, baik yang berbentuk isti’arah, tasbuh, ataupun berbentuk majaz mursal, yang tidak ada kaitannys dengan asal cerita. Jadi, beberapa amtsal dalam Al-Qur’an tidak selalu ada asal ceritanya (musyabah bih) tidak seperti yang terdapat pada amtsal dari para ahli bahasa, para ahli bayan, dan sebagainya
Para ahli bahasa Arab mensyaratkan sahnya amtsal harus memenuhi 4 syarat, sebagai berikut:
oBentuk kalimatnya harus ringkas
oIsi maknanya harus mengena dengan tepat
oPerumpamaan harus baik
oKinayahnya harus indah
V.Sighat-Sighat Amtsatil Qur’an
1)Sighat tasybih yang jelas (tasybih ash-sharih), yaitu sighat atau bentuk perumpamaan yang jelas, didalamnya terungkap kata-kata matsal (perumpamaan). Contoh seperti pada surat Yunus ayat 24
Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit”
Dalam ayat tersebut jelas
2)Sighat tasybih yang terselubung (tasybih adh-dhimni), yaitu sighat/bentuk perumpamaan yang terselubung/tersembunyi, didalam perumpamaan itu tidak terdapat kata al-matsal, tetapi perumpamaan itu diketahui dari segi artinya. Contohnya seperti dalam surat Al-Hujurat ayat 12
Artinya: “Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya”
Dalam ayat tersebut tidak terdapat kata-kata al-matsal (perumpamaan) tetapi arti itu jelas menerangkan perumpamaan, yaitu mengumpamakan menggunjing orang lain yang disamakan dengan makan daging bangkai teman sendiri.
3)Sighat majaz mursal, yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan yang bebas, tidak terikat dengan asal ceritanya. Contohnya pada surat Al-Hajj ayat 73
••
Artinya: “hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kalian seru selain Allah sekali-kali tidk dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat-lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disemabah”
4)Sighat majaz murakkab, yaitu sighat dengan bentuk perumpamaan ganda yang segi persamaannya diambil dari dua hal yang berkaitan. Dimana kaitannya adalah perserupaan yang telah biasa digunakan dalam ucapan-ucapan sehari-hari yang berasal dari isti’arah tamtsiliyah. Contohnya seperti melihat orang yang ragu-ragu akan pergi atau tidak, maka diucapkan:
“saya lihat kamu itu maju mundur saja”.
Dalam perumpamaan itu ada dua hal yang diserupakan, yaitu yang satu melangkah dengan kaki maju dan menarik kaki mundur. Dalam alqur’an contohnya dalam surat Al-Jumuah ayat 5
Artinya: “Seperti keledai yang membawa buku tebal-tebal”
Disini keadaan keledai yang tidak bisa memanfaatkan buku dengan baik, padahal dia yang membawa buku yang tebal-tebal itu.
5)Sighat isti’arah, yaitu dengan bentuk perumpamaan sampiran/lirik (perumpamaan pinjaman). Bentuk ini hampir sama dengan majaz murakkab, karena memang merupakan asalnya. Contohnya dalam surat Yunus ayat 24 yang Artinya: “Seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin”
VI.Tujuan Penggunaan Amtsal
Segala hal yang dijadikan perumpamaan akan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari sehingga manusia akan mendapatkan gambaran dan akan mengingatnya dengan lebih kuat
Melatih cara berpikir manusia dengan analogi-analogi dari Al-Qur’an, manusia akan menyimpulkan sesuatu dengan benar
Mengajak manusia untuk melihat yang abstrak menjadi konkrit
Manusia akan mampu mengambil pelajaran yang telah tertuang dalam Al-Qur’an
Menyingkap sesuatu yang tak tampak menjadi tampak dengan perumpamaan-perumpamaan
Untuk memuji orang
Mendorong manusia untuk berbuat sesuai dengan yang ditamtsilkan
VII.Faedah Amtsalil Al-Qur’an
Pengungkapan pengertian yang abstrak dengan bentuk yang konkrit yang dapat ditangkap dengan indera manusia.
Dapat mengungkapkan kenyataan dan mengkonkritkan hal yang abstrak
Dapat mengumpulkan makna yang indah, menarik dalam ungkapan yang singkat dan padat
Mendorong giat beramal, melakukan hal-hal yang menarik dalam Al-Qur’an
Menghindarkan diri dari perbuatan tercela
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
•Matsal adalah perumpamaan, sifat, dan kisah. menampakkan penampakan yang abstrak dalam ungkapan yang indah, singkat dan menarik, yang mengena dalam jiwa, baik dalam bentuk tasybih maupun majaz mursal
•Orang yang pertama kali mengarang ilmu amtsalil Qur’an adalah Syekh Abdur Rahman Muhammad bin Husain An-Naisaburi
•Macam-macam amtsalil Qur’an yaitu amtsal yang tegas (musharrahah), tersembunyi (kaminah), terlepas (mursalah)
•Sighat-sighat amtsalil Qur’an yaitu sighat tasybih yang jelas (tasybih ash-sharih), terselubung (tasybih ad-dhimni), majaz mursal, majaz murakkab, isti’arah tamtsiliyah
•Begitu banyak manfaat yang dapat kita ambil dari memepelajari Al-Qur’an. Salah satu cabang ilmu yang mempelajari Al-Qur’an yang dapat menambah wawasan dan keimanan kita adalh Amtsalul Qur’an ini
B. SARAN
Dalam penulisan makalah ini masih begitu banyak kesalahan yang belum kami pahami. Oleh karena itu saran dari para pembaca kami terima agar dapat dijadikan pertimbangan dalam pembuatan makalah dikemudian hari. Mohon maaf apabila banyak kesalahan dalam penulisan makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shiddieqy, Hasbi, Z Fuad,2012, Ilmu-ilmu Al-Qur’an (‘Ulum al-Qur’an), Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra
Djalal, Abdul, Ulumul Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu
Rofi’I, Ahmad, Syadali, Ahmad, 1997, Ulumul Qur’an II, Bandung: CV. Pustaka Setia
Anonim, makalahmeza.blogspot.com/2011/12/amtsalil-quran.html?m=1, diakses pada 01 Desember 2011
Belum ada Komentar untuk "Contoh Makalah Amtsal Al-Qur’an"
Posting Komentar